Film yang Dilarang Tayang di Perfilman Indonesia

Terdapat Film yang dilarang tayang di Perfilman Indonesia, karena berbagai alasan yang masuk akal.

Sebuah film yang diproduksi dengan dana yang sangat besar dan terdapat adegan yang begitu nyata malah tidak bisa ditayangkan di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Banyak film asing atau bahkan film asal Indonesia gagal tayang dikarenakan tidak lulus sensor. Bagi kamu yang penasaran film apa saja yang dilarang tayang di perfilman Indonesia, simak selengkapnya dibawah ini.

Berikut  simak Film yang dilarang tayang di Perfilman Indonesia

Fifty Shades of Grey 2015 dan 2017

Film dari amerika serikat yang satu ini secara resmi dilarang beredar karena tak sesuai dengan kriteria di indonesia. Bukan tak hanya di tanah air saja, film yang berdsar dari sebuah novel togel jitu dengan judul yang sama tersebut juga dilarang tayang di Negara tetangga, yakni Malaysia. Hal tersebut disebabkan karena film yang mengusung soundtrack oleh Ellie Goulding, Beyonce dan The Weekend ini mengandung bantak adegan intim yang sangat berlebihan dan terkesan terlihat sadis. Film yang dewasa yang satu ini memang diakui mempunyai adegan fantasi yang sanat liar untuk memenuhi kepuasan seks.

Namun, tidak hanya adegan panas saja, film ini juga mengisahkan tentang persoalan cinta seorang pria tampan dan kaya raya bernama Chistian Grey dengan wanita cantik Anastasia Steele. Walaupun film ini gagal tayang dibeberapa Negara, namun tetap saja mereka merilis film kedua yang suda tayang tahun ini.

Noah 2014

Bukan sebuah rahasia lagi jika film yang memiliki tema tentang agama selalu banyak mengalami kontroversi. Tak terkecuali film yang dibawakan oleh sutradara Darren Aronofsky berjudul Noah ini. Film yang menceritakan tentang nabi Nuh yang diperankan oleh aktor bernama Russel Crowe tersebut, dianggap tidak sesuai atau bersimpangan dengan ajaran yang benar, khususnya tidak sesuai dengan sebuah ajaran agama yang dianut oleh sebagian besar warga di Indonesia. Sampai saat inipun film Noah tersebut tidak pernah diberi kesempatan untuk tayang di layar lebar perfilman di indonesia.

Irreversible 2012

Film besutan  Gaspar Noe yang rilis pada tahun 2002 ini juga tidak pernah kamu temui di bioskop  Indonesia. Salah satu adegan yang membuat film ini menjadi sebuah kontrovesi banyak netizen dikarenakan terdapat adegan sebuah pemerkosaan yang sangat sangat sadis dan tidak pantas dipertontonkan. Aktor Monica Belucci yang menjadi pemeran utama dalam film tersebut harus berperan sebagai wanita yang diperkosa dan dianiaya hingga tidak berdaya. Selain Indonesia, beberapa negara lain seperti Selandia Baru sempat melarang film tersebut diputar di negaranya.

True Lies 1994

Film yang diperankan oleh seorang aktor laga, Arnold Schwarzenegger ini sebenarnya mempunyai beberapa adegan yang sangat menarik dengan berbagai efek serta aksi yang sangat keren. Namun, film garapan sutradara bernama James Cameron tersebut menjadi satu film yang di larang tayang dalam perfilman Indonesia karena menyangkut sosok teroris yang digambarkan oleh pria berkebangsaan Arab. Hal ini tentu akan menimbulkan kontroversi dan prasangka aksi terorisme sangar bersangkutan erat dengan Arab dan juga agama Islam. Akhirnya film True Lies dilarag tayang di indonesia.

The Year of Living Dangerously 1982

Film yang diangkat dari sebuah novel yang memiliki judul sama karangan C.J. Koch dan disutradarai oleh Peter Weir ini menceritakan sebuah kisah tentang situasi politik di Indonesia pada tahun 1965, tepatnya saat menjelang peristiwa G30/S. Karena sudah membawakan cerita tersebut, film ini sempat dilarang tayang pada tahun 1980an di Indonesia. Namun, saat masa orde baru berakhir, film tersebut sudah dapat dirilis dalam bentuk VCD original dan bahkan sempat  ditayangkan di salah satu televise nasional di Indonesia.

Berikut beberapa nonton film streaming asing yang dilarang tayang dalam perfilman di indonesia, dikarenakan beberapa kasus yang dapat menimbulkan kontrovesi, demikian ulasan berikut ini semoga bermanfaat.

Bid’ah Cinta: Kisah Asmara di Tengah Perbedaan

Bid’ah Cinta menyajikan kisah asmara dua insan yang menganut aliran agama yang berbeda di tengah kehidupan modern yang penu lika-liku

Cinta adalah urusan hati, sedangkan agaman adalah persoalan akidah. Kedua tema ini ‘dibalut’ dalam satu film remaja bertajuk Bid’ah Cinta. Seperti judulnya, film togel online ini bergenre drama religi dan mengusung kisah cinta antara dua sejoli yang berbeda aliran, meski keduanya sama-sama muslim. Film besutan Kaninga Pictures ini telah dirilis di bioskop pada tanggal 16 Maret 2017 yang lalu.

Tentang Bid’ah Cinta

Film Bid’ah Cinta terinspirasi dari isu-isu fenomenal di tanah air, yakni masalah bid’ah dalam ajaran Agama Islam, dan dikemas lebih menarik untuk menggaet lebih banyak kalangan dengan memasukkan cerita drama cinta dua remaja.  Tokoh utama film ini adalah Khalida, seorang gadis muslim yang menganut aliran Islam tradisional dan Kamal, seorang pria muslim yang lebih condong ke aliran Islam puritan. Para pemain dalam film ini antara lain:

  • Ayushita Nugraha: sebagai Khalida
  • Dimas Aditya: sebagai Kamal
  • Ibnu Jamil: sebagai Hasan
  • Dewi Irawan: sebagai Nyak Saat
  • Fuad Idris: sebagai H. Rohili
  • Beberapa pemain lain seperti Ronny P. Tjandra, Karlina Inawati, Jajang C. Noer, Alex Abbad, dan Tanta Ginting.

Naskah film ini ditulis oleh Nurman Hakim sendiri bersama 2 orang lainnya, yakni Zaim Rifiqi dan Ben Sohib. Film Bid’ah mengusung kisah dua sejoli dengan latar belakang perkampungna Betawi. Kisah cinta Khalida dan Kamal pada akhirnya melibatkan dua keluarga yang bertentangan, karena perbedaan aliran keyakinan. Tentunya, dua remaja ini harus menjalani hubungan asmara di tengah tekanan dari kedua sisi dan berbagai hambatan yang muncul dari lingkungan sekitar.

Menjawab Pertanyaan Seputar Tema Bid’ah

Banyak kalangan yang mempertanyakan tema bid’ah yang diusung oleh Nurman Hakim pada film ini. Pasalnya, tema ini kerap memicu polemik seputar hal-hal sensitif yang berbau sara. Mengapa Nurman Hakim berani mengusung tema ini?

Dalam sebuah wawancara dengan media, sutradara ini mengatakan bahwa bid’ah bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan dan bukan pula merupakan sesuatu yang sensitif. Masyarakat sudah akrab dengan persoalan bid’ah, apalagi di tengah perkembangan teknologi saat ini. Wajar saja jika banyak hal-hal yang berkembang di tengah masyarakat tidak ditemukan di zaman Rasulullah dahulu.

Sutradara film 3 Doa 3 Cinta ini mengaku bahwa film Bid’ah Cinta tidak mengedepankan persoala bid’ah sebagai tema utamanya. Lagi pula tidak ada pihak yang disudutkan di dalam film ini. Ia hanya ingin menyajikan potret kehidupan masyarakat dengan berbagai isu-isu aktual, seperti bid’ah ataupun isu transgender. Film ini juga dikemas dengan apik sehingga lebih menarik dan jalan cerita, maupun pesan di dalamnya mudah dicerna oleh penonton.

Review Film Bid’ah Cinta

Setelah dirilis sejak tanggal 16 Maret 2017, film Bid’ah Cinta disambut cukup baik, meski tidak sefenomenal film religi lain seperti Ayat-Ayat Cinta. Opini yang muncul pun positif dan negatif. Di sisi positifnya, film ini dikemas dengan sempurna dan mudah dicerna. Bid’ah Cinta menyajikan fenomena yang sedang  marak di masyarakat dan memuat pesan positif yang bisa dibawa pulang oleh penonton.

Di sisi negatifnya, sebagian penonton merasa bahwa film ini kurang fokus membahas tentang tema yang diusung, yakni bid’ah dalam hubungan asmara. Selain itu, logika cerita disajikan kurang apik, sehingga kesannya datar, karena durasinya yang panjang. Secara keseluruhan, Bid’ah Cinta dapat menjadi alternatif tontonan nonton movie saat liburan atau weekend. Cukup banyak pesan moral yang bisa diambil.